Tari Laras Depokyan, Ciptakan Identitas Budaya Baru untuk Kota Depok yang Khas

Di tengah dinamika budaya yang terus berkembang, Kota Depok kini memasuki fase baru dalam upaya memperkuat identitas budayanya. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berkolaborasi dengan Sanggar Tari Larasati untuk menciptakan sebuah karya seni tari yang khas dan mewakili budaya lokal. Karya ini dinamakan Tari Laras Depokyan, yang diharapkan dapat menggambarkan kekayaan budaya Depok dan menjadi salah satu pilar dalam pendidikan seni di daerah tersebut. Dengan rencana untuk diperkenalkan di sekolah-sekolah dan sanggar tari, Tari Laras Depokyan diharapkan bisa menjadi bagian dari muatan lokal yang menarik bagi generasi muda.
Kolaborasi untuk Menciptakan Identitas Budaya
Penciptaan Tari Laras Depokyan merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang didukung oleh hibah dari Kemendiktisaintek. Di bawah kepemimpinan Guru Besar UNJ, Dinny Devi Triana, program ini bertujuan untuk menggali dan menguatkan identitas budaya Kota Depok yang berada di persimpangan dua kebudayaan, yaitu budaya Betawi dan Sunda. Menurut Kurniawan, Ketua Sanggar Tari Larasati, posisi geografis ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengeksplorasi karakteristik unik yang dimiliki oleh Kota Depok.
“Kota Depok terletak di antara suku Betawi dan Sunda, yang menyebabkan seni budaya di sini seringkali tidak mampu mengekspresikan jati diri yang khas. Oleh karena itu, program ini diharapkan dapat memperkuat dan menumbuhkan identitas seni budaya yang mencerminkan masyarakat dan lingkungan sekitar,” jelas Kurniawan.
Memperkenalkan Tari Laras Depokyan di Sekolah
Tari Laras Depokyan tidak hanya ditujukan sebagai pertunjukan artistik, tetapi juga sebagai materi pembelajaran yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan. Rencananya, karya tari ini akan dikenalkan di sekolah-sekolah dan sanggar tari di Kota Depok. Bahkan, ada rencana untuk menjadikannya sebagai salah satu materi lomba dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya untuk SMP di Kota Depok.
Dengan pendekatan ini, Tari Laras Depokyan diharapkan lebih dikenal dan dipelajari oleh generasi muda. “Melalui kurasi digital, kami bertujuan untuk menciptakan karya tari yang monumental dan dapat diakses secara internasional, serta menyediakan materi yang dapat digunakan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah dan sanggar di Depok,” tambah Kurniawan.
Peluang untuk Meningkatkan Citra Budaya Depok
Proyek Tari Laras Depokyan juga memiliki potensi untuk diperkenalkan di tingkat internasional. Tim PISN, bersama dengan Sanggar Tari Larasati, berencana membuka peluang untuk memperkenalkan karya ini melalui proses kurasi dan dokumentasi digital. Jika berhasil, hal ini akan menambah nilai budaya di kawasan Jabodetabek sekaligus memperkenalkan Kota Depok melalui seni pertunjukan.
Proses penciptaan Tari Laras Depokyan dimulai pada Maret 2026, diawali dengan perencanaan dan penyamaan persepsi secara daring. Pada tanggal 5 Maret, berbagai pihak terlibat dalam diskusi untuk memastikan visi yang sama terhadap karya tari ini. Sosialisasi kepada MGMP Seni Budaya untuk SMP di Kota Depok dilaksanakan pada 23 April 2026, diikuti dengan desain koreografi, pemilihan kostum, dan latihan yang berlangsung dari 20 Juni hingga 13 Agustus 2026.
Proses Menuju Pementasan
Setelah tahap latihan, audiensi dengan Lembaga Kebudayaan Depok (LKD) dan pihak-pihak terkait direncanakan pada bulan September mendatang. Audiensi ini diharapkan dapat memberikan pengakuan terhadap Tari Laras Depokyan sebagai karya seni yang memiliki karakteristik khas Kota Depok. Pementasan pertama Tari Laras Depokyan diperkirakan akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026.
Harapan untuk Masa Depan Tari Laras Depokyan
Ketua Program PISN, Dinny Devi Triana, mengutarakan harapannya agar Tari Laras Depokyan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dan mudah dipelajari. “Kami berharap karya ini dapat digunakan dalam pembelajaran seni budaya di berbagai tingkat pendidikan, baik di SMP, SMA, maupun sanggar tari. Semoga tari ini dapat memberikan nilai tambah dan menjadi bagian dari pendidikan seni yang bermanfaat,” ungkap Dinny.
Dengan menggabungkan elemen-elemen dari budaya Betawi dan Sunda, Tari Laras Depokyan diharapkan bukan hanya sekadar karya seni baru, tetapi juga menjadi simbol penguat identitas budaya Kota Depok. Seiring dengan upaya ini, diharapkan masyarakat dapat lebih mengenal dan mencintai kekayaan budaya yang dimiliki daerahnya.
Memperkuat Identitas Melalui Seni
Dalam konteks yang lebih luas, Tari Laras Depokyan menjadi salah satu contoh nyata bagaimana seni dapat berfungsi sebagai alat untuk memperkuat identitas budaya. Melalui seni tari, masyarakat dapat mengekspresikan nilai-nilai dan tradisi yang telah ada, sekaligus memperkenalkan karya-karya baru yang relevan dengan zaman sekarang.
Proses penciptaan karya seni ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk akademisi, seniman, dan masyarakat. Dengan dukungan yang solid, Tari Laras Depokyan tidak hanya akan menjadi bagian dari sejarah seni di Kota Depok, tetapi juga menjadi warisan budaya yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
- Pentingnya pengenalan budaya lokal di lingkungan pendidikan
- Kolaborasi antara lembaga pendidikan dan seniman
- Strategi dokumentasi digital untuk pengenalan internasional
- Perlunya pengakuan resmi terhadap karya seni lokal
- Harapan untuk menjadikan Tari Laras Depokyan sebagai simbol kebanggaan daerah
Dengan langkah-langkah yang terencana dan dukungan dari berbagai elemen masyarakat, Tari Laras Depokyan memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu ikon budaya yang tidak hanya menambah kekayaan seni di Indonesia, tetapi juga memperkuat identitas Kota Depok sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan inovasi seni.
➡️ Baca Juga: Potensi Karakter Rocky di Project Hail Mary untuk Nominasi Oscar yang Menggugah Minat
➡️ Baca Juga: Tanker Saudi Mengubah Rute untuk Menghindari Ancaman Houthi di Laut Merah




