Donald Trump Berencana Memaksa Iran Kembali ke Zaman Batu Melalui Tindakan Tegas

Jakarta – Situasi terkini antara Iran dan Amerika Serikat, yang juga melibatkan Israel, semakin memanas. Berita terbaru menyebutkan bahwa Iran telah meluncurkan serangan besar-besaran, dengan sirene peringatan berbunyi di hampir seluruh wilayah Israel. Serangan ini bukan tanpa alasan; ada dua faktor utama yang memicu respon dramatis ini dari Iran.
Respon terhadap Ancaman dan Provokasi
Serangan yang terjadi tampaknya merupakan reaksi berlapis. Pertama, ini merupakan tanggapan terhadap pernyataan Presiden Trump yang berjanji untuk “memaksa Iran kembali ke zaman batu.” Kedua, serangan ini terkait dengan pengeboman jembatan strategis di Karaj pada 1 April, yang merupakan fasilitas sipil yang seharusnya dilindungi oleh hukum internasional. Sayangnya, baik Israel maupun Amerika Serikat terlihat mengabaikan norma-norma tersebut.
Logika Perang dan Moralitas
Trump mengklaim akan menghancurkan infrastruktur vital Iran, termasuk sektor energi, industri, dan sistem pengolahan air. Strategi ini dirancang untuk membuat rakyat Iran menderita, dengan harapan mereka akan memberontak melawan pemerintah mereka. Namun, pendekatan ini memiliki dua masalah utama. Pertama, dari segi moral, menyerang infrastruktur sipil tidak jauh berbeda dari taktik teroris yang digunakan oleh kelompok ekstremis. Hanya pelakunya yang berbeda: negara adidaya melakukan tindakan serupa tanpa konsekuensi, sementara kelompok yang lebih kecil disebut “teroris.”
Kedua, secara militer, strategi ini telah terbukti gagal. Laporan intelijen menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak berhasil melumpuhkan kemampuan rudal Iran. Setidaknya 50% dari arsenal rudal Iran dan sistem peluncurannya tetap berfungsi, menjadi ancaman nyata bagi kepentingan Amerika di Timur Tengah. Dalam dua hari terakhir, enam pesawat Amerika dilaporkan ditembak oleh sistem pertahanan udara Iran, dengan beberapa pesawat berhasil jatuh, sementara yang lainnya berhasil melarikan diri.
Menariknya, insiden ini terjadi tak lama setelah Trump mengklaim bahwa pertahanan udara Iran telah “dihancurkan total.” Kini, situasi sebaliknya terlihat jelas. Trump memilih untuk tidak tampil di hadapan media, mengaku “belum siap.” Di belakang layar, Amerika kembali mengusulkan gencatan senjata, yang langsung ditolak oleh Iran. Usaha melalui Pakistan pun berakhir tanpa hasil; Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan membuka jalur komunikasi dengan Washington.
Kesaksian Jurnalis dan Reaksi Israel
Hari ini, tulisan seorang jurnalis Israel, Alon Mizrahi, mengungkapkan situasi di lapangan. Mizrahi, yang dikenal kritis terhadap pemerintahan Netanyahu, mengonfirmasi bahwa sirene meraung di seluruh Israel. Menurutnya, Iran dan Hezbollah tampaknya melancarkan serangan terkoordinasi dalam skala besar, dengan sasaran yang mencakup pelabuhan, pangkalan udara, dan pusat-pusat industri militer.
Mizrahi menulis: “Jika serangan berlangsung dengan cara ini, Israel akan dipaksa untuk menyerah, dan jika menolak, mereka akan mengalami keruntuhan total dalam beberapa minggu.” Hal ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi Israel saat ini.
Siapa yang Mengendalikan Iran?
Salah satu kesalahan besar Amerika adalah ketidakpahaman mereka mengenai struktur kekuasaan di Iran. Keputusan strategis Iran, termasuk dalam konteks perang dan negosiasi, kini berada di tangan IRGC (Garda Revolusi Islam) dan komandannya, Jenderal Ahmad Vahidi. Sosok-sosok seperti Presiden, Menteri Luar Negeri, dan Ketua Parlemen hanya dianggap sebagai wajah publik. Di balik layar, IRGC yang menjalankan negara ini.
IRGC sendiri tidak membuka opsi diplomasi. Bagi mereka, setelah Amerika memutuskan untuk membunuh Ali Khamenei, perang ini telah berubah menjadi perjuangan eksistensial — sebuah pertarungan hidup-mati bagi Republik Islam Iran. Mereka berkomitmen untuk berjuang hingga peluru terakhir dan prajurit terakhir, tanpa ruang untuk kompromi.
Selama Amerika terus bernegosiasi dengan pejabat publik Iran, mereka hanya membuang-buang waktu. Pihak yang benar-benar berkuasa tidak pernah hadir di meja perundingan.
Strategi Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya
Keputusan untuk menutup Selat Hormuz juga diambil oleh IRGC. Mereka menegaskan bahwa selat tersebut akan tetap tertutup hingga perang berakhir, langkah ini menjadi pukulan berat bagi kepentingan Amerika. Sementara itu, Amerika dan Israel hanya mampu melancarkan serangan sporadis terhadap infrastruktur Iran. Mereka tidak dapat menyentuh inti kekuatan Iran, yaitu jaringan balistik bawah tanah yang luas.
Satu hal yang paling krusial adalah kurangnya akses untuk berkomunikasi dengan IRGC. Dalam konteks perang, kurangnya pemahaman tentang lawan adalah situasi yang sangat berbahaya. Semua eskalasi yang dilakukan oleh Trump saat ini tidak menyentuh aspek-aspek yang substansial. Semuanya terfokus pada dimensi fisik: membunuh pemimpin, menghancurkan bangunan, memutus infrastruktur.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa tidak ada negara yang dapat ditaklukkan hanya dengan cara-cara tersebut. Strategi yang lebih mendalam dan pemahaman yang lebih baik tentang lawan adalah kunci untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam konflik ini.
➡️ Baca Juga: Kemenhub Siapkan Strategi Efektif untuk Arus Balik Penyeberangan Sumatra–Jawa
➡️ Baca Juga: Jadwal Buka Puasa Hari Ini di Wilayah Jabodetabek, 17 Maret 2026



