Internet BAKTI Lindungi Petani Sulteng dari Penipuan Tengkulak dengan Solusi Efektif

Jakarta – Infrastruktur digital yang dikembangkan oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) tidak hanya berfungsi untuk memperluas akses internet di wilayah-wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Salah satu daerah yang merasakan manfaatnya adalah Kabupaten Parigi Moutong di Sulawesi Tengah.
Perubahan yang Dirasakan oleh Petani
Sebelum adanya jaringan internet, masyarakat di daerah pegunungan sering kali mengalami kesulitan dalam mendapatkan informasi mengenai harga hasil pertanian mereka. Kondisi ini membuat para petani mudah dibohongi oleh tengkulak yang tidak bertanggung jawab. Salah seorang pejabat pemerintah setempat, Khairuddin, selaku Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Parigi Moutong, menjelaskan bahwa keadaan tersebut sangat merugikan petani.
Masalah yang Dihadapi Petani
“Dulu, banyak petani yang tertipu. Tengkulak sering kali menyampaikan informasi yang tidak akurat tentang harga, bahkan ketika harga sebenarnya telah naik,” ungkap Khairuddin dalam acara BAKTI Media Connect 2026. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya akses informasi yang tepat bagi petani untuk melindungi diri mereka dari praktik penipuan.
Akses Internet Meningkatkan Posisi Tawar Petani
Dengan adanya kemudahan akses internet, para petani di daerah terpencil kini bisa mendapatkan informasi harga komoditas secara real-time. Hal ini secara signifikan meningkatkan posisi tawar mereka terhadap tengkulak. “Berkat bantuan dari BAKTI, masyarakat kini bisa mengakses semua informasi yang diperlukan, mulai dari provinsi hingga kabupaten dan kecamatan,” tambah Khairuddin.
Dampak Positif di Desa Baina Barat
Kepala Desa Baina Barat, Yuslan, juga merasakan dampak positif yang sama di desanya. Menurutnya, akses internet telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan pasar. Sekarang, mereka bisa membandingkan harga dan mencari pembeli yang menawarkan harga lebih baik sebelum menjual hasil pertanian mereka.
- Informasi harga komoditas lebih mudah diakses
- Pembeli dari luar desa dapat dijangkau dengan lebih mudah
- Petani memiliki opsi untuk menahan hasil panen
- Perbandingan harga yang lebih baik
- Masyarakat tidak lagi tertipu oleh tengkulak
Relasi Antara Petani dan Pembeli
Dengan kemudahan akses internet, warga desa kini dapat berkomunikasi dengan pengusaha atau calon pembeli di luar desa. Mereka memiliki kebebasan untuk memilih kapan dan kepada siapa mereka akan menjual hasil pertanian. Ini memberi mereka kendali lebih besar atas hasil kerja keras mereka.
“Setelah program BTS dari BAKTI diterapkan, masyarakat sangat senang bisa menggunakan internet. Sekarang, mereka tidak lagi bisa dibohongi oleh tengkulak,” ucap Yuslan dengan penuh semangat. Hal ini menunjukkan bahwa inisiatif BAKTI telah memberikan harapan baru bagi para petani yang sebelumnya terjebak dalam siklus penipuan.
Dampak Positif bagi Pelaku UMKM
Manfaat dari akses internet tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah tersebut. Yuslan menjelaskan bahwa masyarakat kini dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk mereka dan menerima pesanan dari luar desa. Hal ini membuka peluang baru bagi mereka untuk meningkatkan pendapatan.
Pemanfaatan Media Sosial untuk Pemasaran
“Kemudahan akses internet memungkinkan mereka untuk menjual makanan yang mereka buat. Mereka bisa mengambil foto produk, mengunggahnya, dan membagikannya melalui media sosial,” jelasnya. Dengan cara ini, produk lokal dapat dikenal lebih luas, dan UMKM dapat menjangkau konsumen yang lebih banyak.
Pentingnya Infrastruktur Digital untuk Pembangunan Ekonomi Lokal
Infrastruktur digital yang dibangun oleh BAKTI telah memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah 3T. Akses internet bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi jembatan bagi petani dan pelaku UMKM untuk bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan informasi yang akurat, mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik dan meningkatkan pendapatan mereka.
Keberadaan internet di daerah-daerah ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan keterampilan digital masyarakat, serta mendorong inovasi di berbagai sektor. “Kami berharap inisiatif ini terus berlanjut dan semakin banyak daerah yang dapat merasakan manfaat dari akses internet yang lebih baik,” pungkas Khairuddin.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meskipun kemajuan telah dicapai, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Ketersediaan infrastruktur yang merata dan pelatihan bagi masyarakat untuk memanfaatkan teknologi secara maksimal adalah kunci untuk memastikan bahwa manfaat ini dapat dirasakan oleh semua orang. Pendidikan dan pelatihan tentang penggunaan internet adalah langkah penting untuk memberdayakan masyarakat.
“Kami berharap, selain akses yang lebih baik, masyarakat juga diberikan pelatihan tentang cara menggunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas mereka,” ungkap Yuslan. Dengan cara ini, mereka tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga bisa menjadi inovator dalam bidang pertanian dan bisnis.
Kesimpulan
Inisiatif BAKTI dalam menyediakan akses internet di wilayah 3T, khususnya bagi petani di Sulawesi Tengah, menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi alat yang memberdayakan. Dengan informasi yang lebih transparan, petani dan pelaku UMKM dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan berdaya saing. Melihat dampak positif ini, diharapkan lebih banyak upaya dilakukan untuk memperluas akses internet dan meningkatkan keterampilan digital masyarakat, sehingga mereka dapat meraih masa depan yang lebih cerah.
➡️ Baca Juga: Casemiro Resmi Tinggalkan Manchester United untuk Melanjutkan Karier di Italia
➡️ Baca Juga: Aslog Panglima TNI Buka Rapat Koordinasi Logistik TNI TA. 2026




