Novel “Gadis Kretek” Karya Kin Resmi Tersedia dalam Versi Bahasa Korea

Novel “Gadis Kretek” karya penulis Indonesia, Ratih Kumala, kini resmi hadir dalam versi Bahasa Korea Selatan. Penerjemahan ini difasilitasi oleh HansaeYes24 Foundation, yang bertujuan untuk memperkenalkan karya sastra Indonesia kepada para pencinta literasi di Korea. Keberadaan novel ini diharapkan dapat menjembatani hubungan budaya antara dua negara yang kaya akan tradisi dan nilai-nilai sastra.
Pentingnya Sastra Asia Tenggara di Korea
Dalam acara peluncuran, Ketua HansaeYes24 Foundation, Baek Soomi, mengungkapkan bahwa sastra dari Asia Tenggara memiliki peran yang signifikan dalam memperluas dialog budaya di Korea. Dia menjelaskan bahwa Korea berkomitmen untuk membuka diri terhadap karya-karya sastra dari negara lain, termasuk Indonesia.
Peran Sastra dalam Pertukaran Budaya
Baek Soomi menekankan bahwa pertukaran budaya melalui karya sastra dapat memperluas wawasan pembaca dan memperkuat pemahaman antarbudaya. Harapannya, dengan diterbitkannya “Gadis Kretek”, masyarakat Korea akan lebih menghargai sastra dari Asia Tenggara.
- Pembaca dapat memperluas perspektif mereka.
- Memperkuat pemahaman lintas budaya.
- Meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra asing.
- Membangun jembatan budaya antara Korea dan negara lain.
- Menarik perhatian terhadap nilai-nilai lokal.
“Di tengah perhatian global terhadap K-Culture, Korea juga harus terbuka terhadap karya sastra dari berbagai budaya,” ungkap Baek Soomi pada acara peluncuran novel “Gadis Kretek” yang berlangsung di ASEAN-Korea Centre (AKC), Seoul. Dia berharap karya ini dapat memperkuat hubungan budaya antara kedua wilayah.
Inspirasi di Balik “Gadis Kretek”
Ratih Kumala, penulis “Gadis Kretek”, menyampaikan rasa syukurnya atas peluncuran versi Bahasa Korea dari karyanya. Dia mengungkapkan bahwa inspirasi utama untuk novel ini berasal dari kakeknya, seorang pengusaha kretek yang beroperasi di Jawa Tengah.
Proses Kreatif Penulisan
Menurut Ratih, kisah dalam “Gadis Kretek” terinspirasi oleh pengalaman dan cerita hidup kakeknya. Dia menciptakan karakter dan alur cerita fiksi yang merangkum nuansa sejarah, hingga akhirnya melahirkan narasi yang kaya akan budaya dan tradisi.
“Sumber utama inspirasi saya adalah almarhum kakek dari pihak ibu, yang ternyata merupakan seorang pengusaha kretek di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Dari pengalaman itu, saya merangkai karakter serta cerita fiksi yang berujung pada terciptanya “Gadis Kretek”,” jelas Ratih.
Peran Diplomasi Budaya Melalui Sastra
Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea, Cecep Herawan, menyatakan bahwa peluncuran novel ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat diplomasi budaya antara Indonesia dan Korea. Melalui literatur, kekayaan sastra Indonesia dapat lebih dikenal oleh masyarakat Korea.
Komitmen untuk Pertukaran Budaya
Cecep menegaskan bahwa penerbitan “Gadis Kretek” dalam Bahasa Korea bukan sekadar sebuah penerjemahan, tetapi juga merupakan bentuk komitmen untuk memperluas pertukaran budaya antara kedua negara. Ia berharap dengan hadirnya novel ini, masyarakat Korea dapat lebih memahami nilai sejarah dan budaya Indonesia.
- Menjalin hubungan yang lebih erat antara Indonesia dan Korea.
- Mendukung pengenalan budaya melalui sastra.
- Mendorong dialog yang lebih dalam di bidang budaya.
- Memperkuat kerjasama di sektor ekonomi dan budaya.
- Memfasilitasi pertukaran pengetahuan antarbudaya.
“Selama ini, Indonesia dan Korea telah menjalin hubungan yang solid di bidang ekonomi. Melalui cerita-cerita seperti “Gadis Kretek”, kita bisa lebih memahami nilai-nilai serta sejarah masyarakat masing-masing,” ungkapnya. Cecep juga memberikan apresiasi kepada HansaeYes24 Foundation yang berkomitmen untuk memperkenalkan karya sastra dari Asia Tenggara kepada masyarakat Korea.
Jejak Karya Sastra Indonesia di Korea
“Gadis Kretek” menjadi karya sastra Indonesia kedua yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh HansaeYes24 Foundation. Sebelumnya, novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka juga telah diterbitkan pada tahun 2022. Ini menunjukkan upaya yang terus berlanjut dalam memperkenalkan literatur Indonesia kepada pembaca internasional.
Perjalanan Novel “Gadis Kretek”
Novel “Gadis Kretek” pertama kali diterbitkan di Indonesia pada tahun 2012 oleh Gramedia Pusaka Utama. Sejak saat itu, kisah ini telah menarik perhatian banyak pembaca dan semakin populer setelah diadaptasi menjadi serial Netflix dengan judul yang sama, yang dirilis pada tahun 2023 dan dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo.
Promosi dan Penyebaran Budaya di Korea
Selama kunjungannya ke Korea, Ratih Kumala aktif berpartisipasi dalam berbagai acara promosi buku, termasuk Book Talk yang diadakan di Seoul Film Center pada 13 Maret 2026. Forum ini menjadi wadah bagi para pecinta sastra untuk berdiskusi dan berbagi pandangan mengenai karya-karya literatur, termasuk “Gadis Kretek”.
Acara tersebut tidak hanya memberikan kesempatan bagi Ratih untuk berbagi cerita di balik penulisan novelnya, tetapi juga memperluas jangkauan dan pengaruh sastra Indonesia di kancah internasional.
Kesimpulan
Dengan peluncuran “Gadis Kretek” dalam bahasa Korea, diharapkan akan terjalin hubungan yang lebih kuat antara Indonesia dan Korea melalui apresiasi terhadap sastra. Karya Ratih Kumala ini tidak hanya menawarkan kisah yang menarik, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang budaya dan tradisi yang dapat dinikmati oleh pembaca di seluruh dunia.
➡️ Baca Juga: Foto: Layanan penitipan kendaraan bermotor di Polresta Palu
➡️ Baca Juga: Swiss Open 2026: Kemenangan Ringan Jafar/Felisha di Putaran Awal Tanpa Halangan