Siapa yang bisa membayangkan bahwa sebuah perusahaan raksasa di dunia teknologi bisa lahir dari keisengan seorang anak kos yang hobi coding? Kisah inspiratif ini datang dari Muhamad Fajrin Rasyid, Co-Founder Bukalapak, yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Digital Business di Telkom Indonesia. Dalam kesempatan Studium Generale (KU4078) ITB bertema “Membangun Talenta Digital” pada Rabu, 30 September 2026, Fajrin membagikan perjalanan panjangnya menaklukkan industri digital. Acara yang diadakan secara hybrid ini berhasil menarik perhatian banyak mahasiswa dari berbagai lokasi, termasuk Kampus Ganesha, Jatinangor, dan Cirebon. Fajrin, yang merupakan alumnus Teknik Informatika ITB angkatan 2004, menunjukkan bahwa latar belakang teknis yang kuat dapat menjadi aset berharga jika dikombinasikan dengan insting bisnis yang tajam.
Dari Garasi hingga Marketplace Terbesar
Kisah sukses Bukalapak tidak terlepas dari kolaborasi Fajrin dengan dua rekan seangkatan di ITB, Achmad Zaky dan Nugroho Herucahyono. Alih-alih menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak produktif, ketiga pemuda ini lebih memilih untuk berkumpul dan mengembangkan kode program. “Bukalapak didirikan oleh tiga alumni ITB Informatika 2004. Kami bertiga adalah para geek yang fokus pada coding dan pengembangan aplikasi. Inilah yang menjadi cikal bakal Bukalapak yang lahir di garasi atau kos-kosan pada tahun 2009,” kenang Fajrin.
Ide brilian mereka muncul dari hobi menjual dan membeli sepeda serta barang bekas. “Kebiasaan kami dalam jual beli sepeda dan barang second ini kami jadikan sebagai dasar untuk membangun sebuah marketplace. Kami ingin menciptakan platform di mana semua orang bisa bertransaksi dengan mudah,” ujar Fajrin. Dalam waktu singkat, pada tahun 2011, ambisi mereka semakin membesar. Mereka tidak hanya ingin membuat platform dengan fokus niche, tetapi juga bertekad untuk merevolusi cara masyarakat Indonesia berbelanja secara daring. “Visi kami adalah untuk menjadi bazar online terbesar di Indonesia,” tambahnya.
Pentingnya Growth Mindset di Era AI
Di tengah perkembangan pesat teknologi, terutama dengan munculnya Kecerdasan Buatan (AI), Fajrin memiliki satu pesan penting bagi generasi muda: jangan pernah berhenti belajar. Meskipun keterampilan teknis sangat penting, kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat menjadi lebih krusial. “Skill yang paling penting adalah keinginan untuk terus belajar. Kita perlu tetap relevan seiring dengan perkembangan teknologi. Saat ini, banyak orang membicarakan AI, tetapi di masa depan mungkin akan ada teknologi baru yang harus kita pelajari,” jelasnya.
Fajrin adalah contoh nyata dari penerapan growth mindset. Tidak hanya puas menjadi seorang programmer, ia memutuskan untuk memperluas pengetahuannya ke bidang manajemen. Ia bahkan kembali ke ITB untuk meraih gelar Master of Business Administration (MBA) pada tahun 2021. Ini menunjukkan bahwa keinginan untuk belajar dan berkembang harus terus dipupuk dalam diri setiap individu.
Tips Mendapatkan Dukungan Investor
Sebagai sosok yang telah membangun startup dari nol hingga mencapai kesuksesan, Fajrin memahami betul apa yang dicari oleh para investor. Ia mengingatkan generasi muda yang ingin mendirikan startup agar tidak hanya mengandalkan kata-kata manis dan presentasi yang mengesankan. “Pertama, kamu harus memiliki visi yang jelas. Namun, lebih dari itu, kamu harus mampu menyusun strategi yang solid dan memberikan bukti nyata bahwa ide kamu dapat diterapkan dan sudah memiliki pengguna,” tegasnya.
Dalam dunia startup, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh ide-ide yang inovatif, tetapi juga oleh eksekusi yang berdedikasi, keberanian untuk menghadapi tantangan, dan komitmen untuk terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Dari seorang geek yang tinggal di kos-kosan, Fajrin Rasyid membuktikan bahwa talenta digital Indonesia memiliki potensi yang luar biasa di kancah internasional!
Menjadi Inspirasi bagi Generasi Selanjutnya
Fajrin Rasyid tidak hanya menjadi sosok inspiratif bagi banyak orang, tetapi juga menjadi teladan bagi generasi muda yang bermimpi untuk berkarir di industri teknologi. Dengan latar belakang yang kuat dalam teknologi informasi, ia membuktikan bahwa dengan kerja keras, kolaborasi, dan ketekunan, impian tersebut dapat menjadi kenyataan. Sebagai alumni ITB, Fajrin juga mendorong mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga mengembangkan soft skills yang diperlukan dalam dunia bisnis.
- Berani mengambil risiko dan menghadapi tantangan.
- Terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan teknologi.
- Membangun jaringan yang kuat dengan sesama profesional.
- Menjaga semangat kolaborasi dalam tim.
- Memiliki visi yang jelas dan strategi yang terukur.
Menjaga Semangat Berinovasi
Fajrin menekankan bahwa inovasi adalah kunci untuk bertahan dalam industri yang terus berkembang. Ia percaya bahwa setiap individu harus memiliki semangat untuk menciptakan solusi baru yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. “Inovasi tidak hanya datang dari teknologi, tetapi juga dari pemahaman yang mendalam terhadap pasar dan perilaku konsumen,” ungkapnya.
Dengan menyadari pentingnya inovasi, Fajrin mendorong para pengusaha muda untuk berpikir kreatif dan tidak takut untuk mencoba hal-hal baru. “Jangan takut gagal. Setiap kegagalan adalah pelajaran berharga yang akan membawa kita lebih dekat kepada kesuksesan,” tambahnya. Dengan pendekatan ini, Bukalapak berhasil menjadi salah satu platform e-commerce terkemuka di Indonesia.
Kesimpulan yang Menginspirasi
Kisah perjalanan Muhamad Fajrin Rasyid dari seorang anak kos hingga menjadi bos Bukalapak adalah contoh nyata dari ketekunan, pendidikan yang baik, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. Melalui semangat inovasi dan kolaborasi, ia menunjukkan bahwa siapa pun dapat mencapai kesuksesan di dunia teknologi. Dengan visi yang jelas dan dedikasi, generasi muda Indonesia dapat menorehkan prestasi yang gemilang di kancah global.
➡️ Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Menanggung Biaya Pengobatan Peserta Kecelakaan Kerja Sampai Sembuh
➡️ Baca Juga: Galax Mundur dari Pasar Komponen PC Gaming, Palit Mengambil Alih Posisinya
