Pemerhati Kesehatan Mental Ungkap WFA ASN dan Sekolah Daring Picu Potensi Technostress

Jakarta – Kebijakan work from anywhere (WFA) yang direncanakan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) mulai berlaku pada April 2026 diprediksi akan membawa dampak negatif terhadap kesehatan mental. Fenomena ini, yang dikenal sebagai technostress, perlu diantisipasi sejak awal untuk mencegah dampak psikologis yang lebih dalam di kemudian hari.
Technostress: Memahami Dampak Psikologis dari Teknologi Digital
Pemerhati kesehatan mental anak dan remaja, I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya, menekankan pentingnya memperhatikan kondisi psikologis ASN di tengah tuntutan digital yang semakin meningkat. Menurutnya, kebijakan ini belum sepenuhnya menyelesaikan tantangan yang dihadapi ASN, khususnya dalam hal kesehatan mental saat bekerja.
Kondisi Psikologis ASN dalam Era Digital
Dewa mengungkapkan bahwa technostress adalah bentuk tekanan psikologis yang timbul akibat ketidakmampuan individu mengatasi tuntutan yang ditimbulkan oleh teknologi digital. Dalam konteks ASN di Indonesia, ada tiga lapisan kerentanan yang perlu dicermati:
- Struktur birokrasi yang kompleks dapat mengganggu proses koordinasi, yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka, kini beralih ke komunikasi digital.
- Akuntabilitas publik ASN yang terus menerus dapat mengaburkan batas antara waktu kerja dan waktu istirahat, menciptakan budaya selalu terhubung.
- Variasi tingkat literasi digital di kalangan ASN, terutama di daerah dengan infrastruktur internet yang kurang memadai.
Dampak Pembelajaran Daring dalam Sektor Pendidikan
Selain ASN, Dewa juga mengamati bahwa situasi serupa terjadi di sektor pendidikan, khususnya dalam penerapan pembelajaran daring. Ekosistem digital yang aktif, mulai dari notifikasi tugas hingga penggunaan berbagai platform belajar, dapat memberi tekanan tidak hanya kepada siswa tetapi juga para guru.
Risiko Kelelahan dan Penurunan Konsentrasi
Dengan adanya tuntutan respons cepat dalam proses pembelajaran daring, risiko kelelahan bagi guru meningkat, serta berpotensi menurunkan konsentrasi siswa. Dewa menekankan bahwa tanpa adanya protokol kesehatan digital yang jelas, batas antara waktu belajar dan waktu istirahat menjadi kabur, yang bisa berdampak negatif bagi kesejahteraan mental peserta didik.
Pentingnya Protokol Kesehatan Digital
Pemerintah, dalam kebijakan efisiensinya, masih banyak berfokus pada aspek infrastruktur dan prosedur, seperti fleksibilitas kerja dan penguatan platform digital. Namun, pengalaman dari negara lain yang telah lebih dahulu menerapkan sistem kerja hibrida menunjukkan bahwa protokol seperti ‘right to disconnect’ dan pelatihan digital yang komprehensif sangat diperlukan.
Pelatihan dan Pemantauan Kesejahteraan Pegawai
Selain itu, sistem pemantauan kesehatan mental pegawai juga harus menjadi perhatian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa intervensi digital yang tepat dapat mengurangi stres, kecemasan, serta kelelahan kerja yang dialami oleh ASN. Kesehatan mental ASN sangat penting untuk memastikan pelayanan publik yang optimal.
Menuju Pelayanan Publik yang Sehat dan Efektif
Dewa menegaskan bahwa pelayanan publik yang berkualitas tidak akan terwujud dari ASN yang terus-menerus terhubung. Sebaliknya, pelayanan yang baik berasal dari ASN yang memiliki kesehatan mental yang baik dan mampu berpikir jernih serta berempati kepada masyarakat.
Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan strategi yang tidak hanya fokus pada teknologi tetapi juga memperhatikan kesejahteraan mental ASN dan guru. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan technostress dapat diminimalisir, dan produktivitas serta kreativitas ASN dan pendidik dapat meningkat secara signifikan.
Strategi Mengatasi Technostress di Lingkungan Kerja
Untuk mengurangi risiko technostress, sejumlah strategi dapat diterapkan di lingkungan kerja, baik untuk ASN maupun di sektor pendidikan. Beberapa di antaranya meliputi:
- Menerapkan kebijakan kerja fleksibel yang memberikan ASN dan guru waktu untuk beristirahat.
- Menyediakan pelatihan tentang penggunaan teknologi digital secara efektif untuk meningkatkan literasi digital.
- Menetapkan jam kerja yang jelas untuk membedakan antara waktu kerja dan waktu pribadi.
- Mengadakan sesi konsultasi kesehatan mental secara rutin bagi ASN dan pendidik.
- Menumbuhkan budaya komunikasi yang terbuka dan mendukung antara atasan dan bawahan.
Dengan mengimplementasikan strategi-strategi ini, diharapkan lingkungan kerja menjadi lebih sehat dan produktif, serta membantu ASN dan pendidik untuk menghadapi tantangan yang dihadapi di era digital.
Pentingnya Kesadaran akan Kesehatan Mental
Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan ASN dan pendidik perlu ditingkatkan. Masyarakat umum juga harus diberi pemahaman mengenai technostress dan dampaknya terhadap individu. Melalui pendekatan yang holistik, masalah ini dapat ditangani dengan lebih efektif.
Peran Masyarakat dalam Mendukung Kesehatan Mental
Masyarakat, termasuk keluarga dan teman, juga memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan mental ASN dan pendidik. Dukungan sosial yang kuat dapat membantu individu mengatasi stres dan tantangan yang mereka hadapi.
Dengan demikian, kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung bagi semua pihak. Kesehatan mental yang baik akan berkontribusi pada pelayanan publik yang lebih baik dan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
➡️ Baca Juga: Dampak Konsumsi Garam Berlebih terhadap Retensi Air dan Kenaikan Berat Badan
➡️ Baca Juga: Chuck Norris, Ikon Aksi dan Legenda Hollywood, Meninggal Dunia di Usia 86 Tahun




