Indonesia Menguasai Hanya 0,9 Persen Pasar Ekspor Bambu Global, Kemenperin Mengungkapkan Data Terbaru

Indonesia saat ini berada di posisi yang cukup signifikan dalam pasar ekspor bambu global, dengan pangsa hanya 0,9 persen. Data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa meskipun Indonesia menempati urutan ke-12 di dunia, masih terdapat banyak peluang untuk meningkatkan daya saing industri bambu nasional. Peluang yang ada seharusnya bisa dimanfaatkan dengan lebih baik agar Indonesia dapat meraih bagian yang lebih besar dari pasar ini.
Peluang Pasar Ekspor Bambu Global
Proyeksi pasar produk berbasis bambu di dunia menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan. Diperkirakan, nilai pasar ini akan meningkat dari USD 74,0 miliar pada tahun 2024 menjadi USD 118,3 miliar pada tahun 2034. Artinya, selama periode antara 2025 dan 2034, pasar ini diperkirakan akan tumbuh dengan laju tahunan sebesar 4,8 persen. Pertumbuhan ini membuka berbagai kemungkinan untuk para pelaku industri bambu di Indonesia.
Kawasan Asia Pasifik sebagai Pasar Utama
Kawasan Asia Pasifik diprediksi akan menjadi pasar dengan nilai terbesar dalam sektor produk berbasis bambu, mencapai USD 41,5 miliar pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini menyumbang 56,2 persen dari total pasar global. Menurut Putu Juli Ardika, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, potensi ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia, yang memiliki sumber daya bambu yang melimpah dan beragam.
Peluang untuk Memperkuat Industri Bambu Nasional
“Kondisi ini menjadi peluang yang perlu kita ambil,” ungkap Putu. “Dengan sumber daya bambu yang melimpah, kita harus memperkuat industri ini agar bisa bersaing di pasar global.” Meskipun saat ini Indonesia hanya menguasai 0,9 persen dari pasar ekspor bambu global, potensi yang ada seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pangsa pasar tersebut.
Dominasi Tiongkok dalam Ekspor Bambu
Saat ini, Tiongkok mendominasi pasar ekspor bambu global dengan pangsa sebesar 74,8 persen, diikuti oleh Vietnam yang menguasai 3,2 persen. Indonesia, dengan pangsa 0,9 persen, masih jauh tertinggal dan perlu melakukan langkah strategis untuk mengejar ketertinggalan ini. Untuk itu, penguatan industri tidak hanya perlu dilakukan pada sisi pengolahan, tetapi juga pada sisi hulu, agar dapat menjamin ketersediaan bahan baku yang berkualitas dan terstandarisasi.
Komposisi Produk Bambu di Pasar Global
Produk berbasis bambu yang paling banyak diekspor di pasar global meliputi:
- Furnitur: 28 persen
- Scaffolding: 17 persen
- Engineered bamboo: 16 persen
- Pulp dan kertas: 13 persen
- Charcoal dan activated carbon: 10 persen
Kerajinan tangan dan tekstil masing-masing menyumbang 6 persen. Penguasaan pasar ini menunjukkan bahwa industri bambu di Indonesia memiliki banyak ruang untuk berkembang, baik dalam hal inovasi produk maupun peningkatan kualitas.
Inovasi dalam Pembangunan Rumah Berbasis Bambu
Di dalam negeri, program pembangunan tiga juta rumah per tahun memberikan peluang besar bagi pemanfaatan material lokal, terutama bambu. Salah satu teknologi yang tengah dikembangkan adalah cement-bamboo frame technology (CBFT), yang sangat prospektif untuk pembangunan rumah tipe 36. Teknologi ini memiliki karakteristik ringan dan memungkinkan proses perakitan yang efisien tanpa memerlukan alat berat.
Keunggulan Teknologi CBFT
Putu menjelaskan, “Teknologi CBFT berbasis bahan baku lokal, sehingga dapat mendukung peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam ekosistem konstruksi modular nasional.” Inovasi ini tidak hanya memberikan alternatif material yang berkelanjutan, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal.
Tantangan dalam Pengembangan CBFT
Meskipun potensi penggunaan teknologi CBFT sangat besar, pengembangannya memerlukan dukungan dari ekosistem penyediaan bahan baku bambu yang berkelanjutan. Salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah terbatasnya kelembagaan penyedia bambu yang memenuhi standar kualitas dan kuantitas yang diperlukan untuk industri.
Inisiatif Kemenperin untuk Meningkatkan SDM
Untuk mengatasi tantangan ini, Kemenperin telah meluncurkan Akademi Komunitas Bambu (AKB) Tahun Anggaran 2026 di Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, Bali. Program ini bertujuan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan mampu memastikan kualitas bahan baku bambu. “Bambu merupakan komoditas strategis yang melimpah di Nusantara,” kata Putu. “Optimalisasi potensi ini sangat bergantung pada SDM yang mampu mengelola rantai pasok dengan baik.”
Fokus Program AKB Tahun Anggaran 2026
Putu menambahkan bahwa program AKB untuk tahun 2026 akan memberikan fokus yang lebih besar pada penguatan sisi hulu. Peserta program ini akan direkomendasikan sebagai offtaker untuk pemasok atau penggiat bambu hulu, yang memiliki akses untuk memperbaiki tata kelola logistik bambu.
Keberlanjutan dan Pengembangan Ekosistem Bambu
Penerapan program AKB tahun ini juga melanjutkan berbagai capaian dari tahun sebelumnya. Beberapa capaian tersebut antara lain kerja sama dalam pengembangan bambu cendani di Purworejo dan Bandung, pemetaan dan penanaman di Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta pembibitan di Banyuwangi dan penanaman di Mojokerto. Semua langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pasar ekspor bambu global dan meningkatkan kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional.
➡️ Baca Juga: Persib Unggul 1-0 atas PSIM Berkat Gol Cepat Patricio Matricardi di Babak Pertama
➡️ Baca Juga: Mantan Anggota Black Midi Formasi Band Baru Setelah Mengalami Keracunan Makanan



