Misi INA-LAC ke Chile, Indonesia Maksimalkan Kesempatan Dagang dan Investasi di Amerika Latin

Jakarta – Indonesia tengah melakukan langkah strategis untuk memperluas jangkauan pasar ke wilayah Amerika Latin dan Karibia melalui misi bisnis yang dikenal sebagai INA-LAC, yang tahun ini berfokus di Chile. Inisiatif ini diharapkan dapat mengoptimalkan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Indonesia dan Chile, serta mendorong peningkatan perdagangan dan menciptakan lebih banyak kesempatan dagang dan investasi di kawasan tersebut bagi pelaku usaha nasional.
Misi Bisnis INA-LAC di Chile
Direktur II Amerika di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia, Riris Wusananingdyah, menjelaskan bahwa misi dagang ini merupakan langkah Indonesia untuk memasuki pasar Amerika Latin dan Karibia yang masih memiliki banyak potensi. Selain itu, ini juga menjadi upaya untuk memperkuat kemitraan antara industri domestik dengan mitra bisnis di kawasan itu.
“Salah satu alasan pemilihan Chile sebagai lokasi INA-LAC adalah karena adanya CEPA yang telah terjalin dan perkembangan positif yang terjadi di negara tersebut,” ungkap Riris pada konferensi pers di Jakarta.
Detail Misi Bisnis
Misi bisnis INA-LAC 2026 dijadwalkan berlangsung pada 1 hingga 2 Oktober 2026 di Santiago, Chile. Delegasi Indonesia akan terdiri dari perwakilan 21 perusahaan yang telah dipilih oleh Kemlu RI dari beragam sektor, termasuk otomotif, makanan dan minuman, alat kesehatan, serta farmasi. Riris menambahkan bahwa jumlah perusahaan yang terlibat masih bisa bertambah sebelum acara berlangsung.
Riris juga menyoroti partisipasi PT Dirgantara Indonesia, yang akan kembali ambil bagian dalam misi ini setelah terlibat pada tahun 2024 dan 2025. “Kehadiran perusahaan ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu menyediakan layanan pengadaan dan perawatan pesawat,” tambahnya.
Melibatkan UMKM dalam Misi
Anggota delegasi akan mencakup pula Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kerajinan, furnitur, serta makanan dan minuman. Hal ini menunjukkan kesiapan mereka untuk bersaing di panggung internasional dan memperlihatkan kualitas produk lokal. Acara ini juga dilaksanakan dalam konteks pertumbuhan perdagangan yang semakin kuat antara Indonesia dan negara-negara di Amerika Latin serta Karibia. Diperkirakan, ekspor Indonesia ke kawasan ini pada tahun 2025 akan mencapai sekitar 7,6 miliar dolar AS, sementara impor diprediksi mencapai 8,5 miliar dolar AS.
Meskipun demikian, Riris mencatat bahwa hingga saat ini, proporsi perdagangan dan investasi Indonesia di Amerika Latin dan Karibia hanya sekitar 3 persen dari total perdagangan global Indonesia. Angka ini masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan potensi yang dimiliki oleh kawasan tersebut.
Pentingnya Kunjungan Industri
Dalam upaya memfasilitasi interaksi antara perusahaan-perusahaan Indonesia dengan mitra bisnis di kawasan, Kemlu RI juga akan memfasilitasi kunjungan industri ke pabrik-pabrik lokal serta menyelenggarakan forum bisnis selama dua hari pelaksanaan INA-LAC 2026.
Selain itu, akan ada forum bisnis khusus yang fokus pada sektor energi dan pertambangan, di mana sejumlah perusahaan Indonesia akan mempresentasikan peluang kerja sama dalam bidang tersebut.
Riwayat Misi Bisnis INA-LAC
Misi bisnis ini merupakan yang ketiga kalinya dilaksanakan dengan cara “jemput bola” di negara-negara Amerika Latin, setelah misi bisnis INA-LAC pada tahun 2024 yang diadakan di Lima, Peru, dan pada tahun 2025 di Sao Paulo, Brasil. Sebelumnya, selama periode 2019 hingga 2023, Forum Bisnis INA-LAC diselenggarakan di Jakarta.
Melalui misi ini, Indonesia berharap dapat memaksimalkan kesempatan dagang dan investasi di Amerika Latin, dengan harapan dapat meningkatkan hubungan ekonomi dan menciptakan lebih banyak peluang bagi pelaku usaha domestik untuk berpartisipasi dalam pasar global.
➡️ Baca Juga: Timnas Indonesia Harus Hadapi Tim Selevel atau Lebih Kuat untuk Meningkatkan Ranking FIFA pada Juni 2026
➡️ Baca Juga: Jepang Memperluas Kesempatan Kerja di Sektor Penerbangan bagi Pekerja Migran



