Film NAZA Menang di Venesia, Menteri Israel Mengancam Cabut Kewarganegaraan

Film dokumenter NAZA, yang digarap oleh pasangan sineas asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, telah menarik perhatian global setelah meraih Special Jury Prize di Festival Film Venesia 2026. Namun, pencapaian ini tidak lepas dari kontroversi, terutama dari para pejabat pemerintah Israel yang mengeluarkan kritik dan ancaman terhadap para pembuat film. Dengan latar belakang yang kaya akan isu sensitif, NAZA berhasil membuka diskusi mengenai dampak operasi militer di Gaza, meskipun harus menghadapi badai kecaman dari negaranya sendiri.
Penghargaan di Festival Film Venesia
Pada tanggal 10 September 2026, NAZA menjalani pemutaran perdana di 83rd Venice International Film Festival. Film ini menawarkan wawancara dengan 24 perwira intelijen dan prajurit Israel yang berbicara secara anonim tentang mekanisme operasi militer dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam pengawasan di Gaza. Keberanian para sineas untuk menyoroti isu-isu sensitif ini membuat NAZA memicu diskusi yang mendalam di kalangan penonton.
Setelah pemutaran, film ini mendapatkan standing ovation selama 24,5 menit, sebuah durasi yang mencetak rekor untuk standing ovation terlama dalam sejarah festival. Respons luar biasa ini menunjukkan betapa kuatnya dampak film ini terhadap audiens internasional.
Kontroversi dan Kecaman dari Pejabat Israel
Alih-alih menerima sambutan positif, NAZA justru memicu reaksi negatif dari beberapa pejabat tinggi Israel. Menteri Kebudayaan, Miki Zohar, mengungkapkan kekecewaannya melalui akun media sosialnya, menuding bahwa keberhasilan film tersebut merupakan bentuk pengkhianatan terhadap negara. Ia mengklaim bahwa para pembuat film telah menyerang tanah air mereka demi mendapatkan pengakuan internasional.
Dalam pernyataannya, Zohar menyebutkan:
- “Kemenangan film tercela NAZA di Festival Film Venesia benar-benar mengejutkan.”
- “Kebencian terhadap negara sendiri yang begitu besar dari para pembuat film ini sungguh sulit dipercaya.”
- “Ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap negara.”
Ia juga menekankan perlunya reformasi dalam pendanaan film, agar dana publik tidak digunakan untuk mendukung karya yang dianggap menyerang militer dan negara Israel.
Ancaman Pencabutan Kewarganegaraan
Miki Zohar tidak hanya berhenti pada kritik verbal. Ia mengancam akan mencabut kewarganegaraan Yuval Abraham dan Rachel Szor, menganggap pembuatan film NAZA sebagai tindakan yang merugikan negara. “Sebagai Menteri Kebudayaan, saya akan segera mengambil langkah untuk mencabut kewarganegaraan Israel para pembuat film tersebut,” tegasnya.
Kecaman serupa juga disampaikan oleh Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir. Politikus dari faksi sayap kanan ini menyebut keberadaan para sineas sebagai aib bagi masyarakat Israel dan bahkan menyarankan mereka untuk meninggalkan negara. Dalam pernyataannya, Ben-Gvir menyatakan:
- “Kalian adalah aib dan penyesalan bagi seluruh rakyat Israel.”
- “Saya yakin teman-teman kalian, maksud saya musuh kita, Hamas di Gaza, akan menyambut kalian dengan tangan terbuka.”
Keberanian Sineas dalam Menghadapi Kontroversi
Meski menghadapi tantangan besar, Yuval Abraham menegaskan bahwa mereka berani menjadikan NAZA sebagai karya yang penting untuk dipublikasikan. Ia mengakui bahwa mengangkat isu-isu sensitif seperti operasi militer di Gaza membawa risiko besar. Namun, ia dan Rachel merasa perlu untuk membahas kondisi yang dihadapi oleh masyarakat Palestina, yang sering kali terpinggirkan dalam narasi yang lebih besar.
Abraham menjelaskan bahwa film ini berupaya membuka ruang diskusi mengenai tema yang sering kali sulit untuk dibicarakan. “Kami mengambil risiko dalam sistem yang memberikan hak istimewa kepada kami, di mana supremasi Yahudi-Israel menjadi karakteristik utamanya,” ungkapnya.
Ia juga menggarisbawahi dampak operasi militer terhadap kehidupan warga sipil Palestina, menolak narasi yang menyederhanakan kompleksitas situasi di lapangan. “Bagi begitu banyak warga Palestina, yang mendatangi rumah mereka bukanlah massa sayap kanan, melainkan buldoser dan senjata yang didanai AS.”
Tanggapan Militer Israel
Di sisi lain, militer Israel (IDF) langsung menolak tuduhan yang disampaikan dalam film tersebut. IDF mempertanyakan keabsahan pernyataan para narasumber anonim yang dihadirkan dalam dokumenter, menegaskan bahwa mereka tidak mengakui informasi yang disampaikan dalam NAZA sebagai fakta yang valid. Meskipun demikian, Abraham tetap meyakini bahwa film ini penting, termasuk untuk ditonton oleh masyarakat Israel sendiri.
Ia menekankan bahwa NAZA dapat memberikan perspektif baru dan mendorong audiens untuk berpikir kritis mengenai isu-isu yang selama ini terabaikan.
Reaksi Penonton dan Dampak Global
NAZA bukan hanya menarik perhatian di level festival, tetapi juga menciptakan dampak yang lebih luas di kalangan penonton internasional. Standing ovation yang panjang menjadi tanda bahwa film ini berhasil menyentuh emosi banyak orang. Beberapa penonton bahkan terlihat mengibarkan bendera Palestina sebagai bentuk solidaritas, menunjukkan bahwa film ini tidak hanya dipandang sebagai karya seni, tetapi juga sebagai pernyataan politik.
Film ini berhasil menggugah kesadaran banyak orang tentang kondisi yang dihadapi oleh masyarakat Palestina. Dalam konteks ini, NAZA menjadi lebih dari sekedar film; ia menjadi alat untuk mendorong dialog dan refleksi mengenai konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut.
Pentingnya Diskusi Terbuka
Diskusi yang muncul berkat NAZA menunjukkan betapa pentingnya untuk memiliki ruang bagi semua suara, bahkan yang paling tidak nyaman sekalipun. Film ini mengajak penonton untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan membahas isu-isu yang sering kali dianggap tabu.
Yuval Abraham dan Rachel Szor, meskipun menghadapi tekanan dari pemerintah, tetap berkomitmen untuk berkarya. Mereka percaya bahwa seni memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan dan menginspirasi orang untuk bertindak.
Kesempatan untuk Melihat Melalui Lensa Berbeda
NAZA adalah pengingat bahwa film dan seni dapat menjadi jendela untuk melihat realitas yang sering kali tersembunyi. Di tengah kontroversi yang mengelilingi film ini, keberanian para sineas untuk mengangkat isu-isu sensitif harus diapresiasi. Meskipun mereka menghadapi kritik tajam, film ini membuka peluang bagi masyarakat untuk mendiskusikan dan memahami kompleksitas konflik yang ada.
Dengan semua perhatian yang diterima, NAZA tidak hanya berhasil sebagai karya seni, tetapi juga sebagai pemicu untuk perubahan sosial. Melihat melalui lensa yang berbeda memberikan kita kesempatan untuk lebih memahami satu sama lain dan, dalam prosesnya, menciptakan jembatan antara berbagai perspektif yang ada.
➡️ Baca Juga: Analisis Pertandingan PSIM vs Persita: Peluang Laskar Mataram untuk Raih Kemenangan
➡️ Baca Juga: Panduan Praktis Diet Sehat yang Efektif Tanpa Rasa Lapar Setiap Hari




